Catatan Inspirasi Kajian Tokoh Peradaban Islam – Sirah Community Indonesia oleh Ustadz Asep Sobari]
Abu Ja’far Ath Thabari tak sekadar menjadi rujukan utama dalam ilmu saja, namun jua menjadi rujukan utama dalam akhlaq. Begitulah Al Khatib Al Baghdadi memberi testimoninya tentang Sang Mufassir.
Ayahnya, Jarir bin Yazid bin Katsir, ialah seorang ulama dan ahli sejarah. Sehingga peran ayahnya tak sekadar membesarkan saja namun jua menjadi guru pertama bagi Ibn Jarir. Ath Thabari kecil berhasil menghapal al Qur’an di usia 7 tahun dan menjadi imam di Masjid ketika usia 8 tahun. Ia-pun mulai belajar hadits (sanad dan menghapalnya) di usia 9 tahun. Saat itu, usia 9 tahun belum masuk syarat belajar hadits, namun karena Ath Thabari sudah mencapai syarat-syarat mempelajari ilmu hadits ia diperkenankan mengikutinya. Syarat ini penting, bukan hanya sekadar keilmuan yang menyokongnya telah Ath Thabari kuasai, namun jua adabnya pada ilmu dan guru telah diresapi Ath Thabari.
Lahir di Thabaristan dan wafat di Baghdad, menunjukkan Ath Thabari terbiasa melakukan rihlah ilmu.
Imam Dzahabi mengatakan; Ath Thabari mulai mencari ilmu ke luar sejak tahun 240 H. Saat itu usianya 16 tahun dan wafat di usia 86 tahun. Artinya selama 70 tahun ia berkeliling mencari ilmu dan mengajarkannya.
Keluasan dan gairahnya menuntut ilmu menghantarkan Ath Thabari berdebat dengan murid-murid dari Imam Syafi’i. Tentu, debatnya bukanlah bertujuan mencari eksistensi diri atau menunjukkan diri yang paling hebat.
Pernah dalam forum umum, Ath Thabari memenangkan debat dengan murid Imam Syafi’i di Mesir. Namun yang memahami bahwa Imam Ath Thabari yang menang debat hanya para ulama, sedang orang awam berpikir Ath Thabari kalah, karena diakhir perdebatannya Imam Ath Thabari tetap memuji lawannya, “Anda hebat”. Mengapa terdapat perbedaan persepsi antara ulama dan orang awam tentang siapa yang menang dalam debat tersebut? Ustadz Asep menjelaskan, “Tidak ada yang bisa mengetahui keunggulan seseorang kecuali orang yang unggul juga.”
Meski Ath Thabari menang dalam debat, ia tetap menjaga adab dan akhlaknya dalam perdebatan. Memuji lawannya dengan lapang di khalayak umum, tak membuat ia merasa rugi. Jika pujian mampu ia lontarkan itu artinya selama berdebatpun ia menggunakan bahasa yang halus.
Ath Thabari pernah jua berdebat dengan Imam Daud azh-Zhahiri. Di forum perdebatan, Az Zhahiri bungkam tak mampu menjawab pertanyaan Imam Thabari. Namun ternyata pengikut Az Zhahiri marah, melontarkan kata kasar dan menunjuk-nunjuk Imam Thabari. Luar biasanya beliau diam saja, meskipun mampu membalas namun ia tak lakukan. Bahkan sekalipun mampu mengerahkan pengikutnya, Imam Ath Thabari tak lakukan itu. Sikapnya menunjukkan kemurnian niat berdebatnya.
Dengan keberkahan ilmu yang ia miliki, ia beri keteladanan bagi kita hingga kini bahwa kebenaran disampaikan harus tetap berbalutkan adab dan akhlak yang mulia, sebagai pantulan dari betapa mulianya ilmu dan guru yang telah menyampaikannya pada kita. Sikap memilih diam dan memberi pujian pada lawannya saat berdebat menunjukkan bahwa menjaga persatuan dan persaudaraan lebih penting dari memuaskan gejolak pribadi.
Begitulah Ath Thabari, debatnya ditujukan untuk meninggikan agama Allah mencari kebenaran, tanpa sangka namun dengan kepastian data.
Wajarlah jika Tajuddin as Subki memujinya sebagai mujtahid muthlaq. Salah satu imam paling terkemuka di dunia ini baik ilmu maupun amalannya.
– Zaili Fitria
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
